Breaking News
Loading...
Tuesday, November 10, 2009

Najis Dan Mazi

11/10/2009
 
Mani Tidak Najis Tapi Mazi Najis
Salam,
Ada satu persoalan menarik yang mana selama ini menjadi isu yang membingungkan ramai Muslim. Ianya adalah mengenai apa itu mazi dan apa itu mani serta hukum berkaitan dengannya. Secara umumnya difahami bahawa: Air mani ialah cecair putih pekat yang keluar apabila sampai kepada kemuncak syahwat. Ia bukan najis tetapi hendaklah mandi wajib bagi mensucikannya untuk membolehkan seseorang itu menunaikan ibadat. Manakala air mazi ialah cecair jernih yang keluar disebabkan rangsangan ketika mukaddimah syahwat. Ia adalah najis dan tidak wajib mandi memadai membasuh sahaja tempat berkenaan. Manakala cecair yang keluar akibat letih atau mengangkat sesuatu yang berat dinamakan air wadi. Berikut saya salinkan artikel yang bagus membincangkan mengenai jenis dan kategori najis untuk renungan kita semua:
1. Pembagian Najasah
An-Najasah sering dimaknai dengan najis dalam bahasa Indonesia. Meskipun secara bahasa Arab tidak identik maknanya. Najis sendiri dalam bahasa Arab ada dua penyebutannya. Pertama : Najas, maknanya adalah benda yang hukumnya najis. Kedua : Najis, yang maknanya adalah sifat najisnya. An-Najasah (najis) itu lawan dari Thaharah yang maknanya kesucian. Para ulama telah membagi najis itu menjadi sekian jenis kelompok. Ada yang mengelompokkannya berdasarkan hukum dan hakikat. Ada juga yang membaginya berdasarkan levelnya antara berat, ringan dan sedang. Ada juga yang membaginya berdasarkan wujudnya yang cair atau padat. Dan juga ada yang membaginya berdasarkan yang terlihat dan tidak terlihat.
a. Najis Hakiki dan Hukmi
Najis Hakiki adalah najis yang selama ini kita pahami, yaitu najis yang berbentuk benda yang hukumnya najis. Misalnya darah, kencing, tahi (kotoran manusia), daging babi. Dalam bab tentang najasah, najis jenis inilah yang kita bahas, bukan najis hukmi. Najis Hukmi itu maksudnya adalah hadats yang dialami oleh seseorang. Misalnya, seorang yang tidak punya air wudhu itu sering disebut dengan dalam keadaan hadats kecil. Dan orang yang dalam keadaan haidh, nifas atau keluar mani serta setelah berhubungan suami istri, disebut dengan berhadats besar.
b. Najis Berat dan Ringan
Ada najis yang berat seperti daging babi. Tetapi ada juga najis yang ringan seperti air kencing bayi laki-laki yang belum makan apa-apa kecuali air susu ibunya. Dan diantara keduanya, ada najis sedang. Dalam mazhab Asy-Syafi`iyah, najis berat itu hanya bisa dihilangkan dengan mencucinya sebanyak tujuh kali dan salah satunya dengan tanah. Sedangkan najis yang ringan bisa dihilangkan dengan memercikkan air ke tempat yang terkena najis. Sedangkan najis yang sedang, bisa dihilangkan dengan mencucinya dengan air hingga hilang rasa, warna dan aromanya.
2. Benda Yang Kenajisannya Disepakati Ulama
a. Daging Babi
Meski pun seekor babi disembelih dengan cara yang syar`i, namun dagingnya tetap haram dimakan karena daging itu najis hukumnya. Meskipun nash dalam Al-Quran Al-Kariem selalu menyebut keharaman daging babi, namun kenajisannya bukan terbatas pada dagingnya saja, namun termasuk juga darahnya, tulangnya, lemaknya, kotorannya dan semua bagian dari tubuhnya. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disebut selain Allah . Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak melampaui  batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.(QS. Al-baqarah : 173)
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi  barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.(QS. An-Nahl : 115).
b. Darah
Darah manusia itu najis hukumnya, yaitu darah yang mengalir keluar dalam jumlah yang besar dari dalam tubuh. Maka hati, jantung dan limpa tidak termasuk najis, karena bukan berbentuk darah yang mengalir. Sedangkan hewan air (laut) yang keluar darah dari tubuhnya secara banyak tidak najis karena ikan itu hukumnya tidak najis meski sudah mati. Sedangkan darah yang mengalir dari tubuh muslim yang mati syahid tidak termasuk najis.
c. Air Kencing Manusia, Muntah dan Kotorannya.
Kenajisan ketiga benda ini telah disepakati oleh para ulama. Kecuali bila muntah dalam jumlah yang sangat sedikit. Dan juga air kencing bayi laki-laki yang belum makan apapun kecuali susu ibunya. Dalilnya adalah hadits
berikut ini
ملسو هيلع لا ىلص لا لوسر ىلإ ماعطلا لكأي مل ريغص اهل نباب تتأ اهنأ نصحم تنب سيق مأ نع
ةعامجلا هاور هلسغي ملو هيلع هحضن ءامب اعد هبوث ىلع لاب
Dari Ummi Qais ra bahwa dia datang kepada Rasulullah SAW dengan membawa anak laki-lakinya yang belum bisa makan. Bayi itu lalu kencing lalu Rasulullah SAW meminta diambilkan air dan beliau memercikkannya tanpa mencucinya`. (HR. Bukhari 223 dan Muslim 287)
لوبو حضني عيضرلا ملغلا لوب : لاق ملسو هيلع لا ىلص لا لوسر نأ بلاط يبأ نب يلع نع
: لاقو يذمرتلاو دمحأ هاور . اعيمج لسغ امعط اذإ امعطي مل ام اذهو : ةداتق لاق لسغي ةيراجلا
نسح ثيدح
Dari Ali bin Abi Thalib ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Kencing bayi  laki-laki itu cukup dengan memercikkanya saja. Sedangkan kencing bayi  wanita harus dicuci”. Qatadah berkata,”Dan ini bila belum makan apa-apa, tapi bila sudah makan makanan, maka harus dicuci”. (HR. Tirmizi dan beliau menshahihkannya). (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Tirmizy dan Ahmad)
d. Nanah
Nanah adalah najis dan bila seseorang terkena nanah, harus dicuci bekas nanahnya sebelum boleh untuk melakukan ibadah yang mensyaratkan kesucian (wudhu` atau mandi).
e. Mazi dan Wadi
Mazi adalah cairan bening yang keluar akibat percumbuan atau hayalan, keluar dari kemaluan laki-laki biasa. Mazi itu bening dan biasa keluar sesaat sebelum mani keluar. Dan keluarnya tidak deras / tidak memancar. Mazi berbeda dengan mani, yaitu bahwa keluarnya mani diiringi dengan lazzah atau kenikmatan (ejakulasi/orgasme) sedangkan mazi tidak. Wadi adalah cairan yang kental berwarna putih yang keluar akibat efek dari air kencing.
f. Bangkai Hewan
Hewan yang mati menjadi bangkai hukumnya najis, sehingga badan, pakaian atau tempat shalat yang terkena bangkai hewan harus disucikan. Untuk mensucikannya bisa dilakukan dengan mencucinya dengan air hingga hilang bau, warna dan rasanya. Dalam Al-Quran Al-Kariem Allah SWT berfirman tentang hukum bangkaiSesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disebut selain Allah . Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak melampaui  batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. Al-Baqarah : 173)
g. Daging dan Susu Hewan Yang Haram Dagingnya
Para ulama sepakat mengatakan bahwa susu hewan itu haram selama dagingnya haram. Misalnya susu anjing itu hukumnya haram, karena daging anjing juga haram. Demikian juga susu hewan buas (pemakan hewan/carnivora) lainnya, susunya menjadi haram lantaran dagingnya haram dimakan.
h. Potongan Tubuh Dari Hewan Yang Masih Hidup
Anggota tubuh hewan yang terlepas atau terpotong dari tubuhnya termasuk benda najis dan haram hukumnya untuk dimakan.
Rating: 5, Reviewer : Yufex E,

0 Comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung di LpuARmy Blog, budayakan berkomentar dengan nama (jangan pakai Anonymous) dan baik yah :)

sankyu :)
- Admin LpuARmy Blog

 
Toggle Footer